Kategori Produk
Mengenai Saya
Recent Coment
Pengikut
Label:
info kesehatan
Oleh Bahron Ansori
Imunisasi merupakan cara terbaik untuk melindungi anak
dari berbagai macam penyakit. Anda mendengar hal ini dari dokter, media masa,
brosur di klinik, atau teman-teman Anda. Tetapi, apakah Anda pernah berpikir
ulang tentang tujuan imunisasi? Pernahkah anda meniliti lebih lanjut terhadap
isu-isu dan cerita mengenai sisi lain imunisasi (yang tidak pernah
diinformasikan oleh dokter)? Baiklah, mari kita ikuti lebih lanjut.
Serangkaian imunisasi yang terus digiatkan hingga saat
ini oleh pihak-pihak terkait yang katanya demi menjaga kesehatan anak, patut
dikritisi lagi baik dari segi kesehatan maupun syariat. Teori pemberian vaksin
yang menyatakan bahwa “memasukkan bibit penyakit yang telah dilemahkan kepada manusia
akan menghasilkan pelindung berupa anti bodi tertentu untuk menahan serangan
penyakit yang lebih besar.” Benarkah?
Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap
suatu penyakit dengan memasukkan "sesuatu" ke dalam tubuh agar tubuh
tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang.
Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten.
Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya akan
memberikan kekebalan atau resistensi pada penyakit itu saja, sehingga untuk
terhindar dari penyakit lain diperlukan imunisasi lainnya. Intinya kalau memang
imunisasi betul betul diperlukan, mengapa tidak memasukkan ribuan jenis virus
tadi yang telah dilemahkan ? Dalam logika Islam, mencegah penyakit adalah
bukan dengan cara memasukkan setiap varian virus baru yang dilemahkan, tapi
dengan cara meningkatkan kemampuan alami tubuh untuk membuat antibodi.
Intinya adalah kita harus memakan makanan yang halal
dan thayyib, kembali pada yang natural, jangan banyak memakan makanan
'sintetis'. Madu, kurma, dan segala macam herbal dengan proporsi yang cukup
sebenarnya sangat memadai untuk mencegah penyakit.Perhatikan sabda Rasulullah
saw berikut, “Sesungguhnya Allah swt telah menurunkan penyakit dan menurunkan
obat, serta menyediakan obat bagi setiap penyakit, maka berobatlah, dan jangan
berobat dengan sesuatu yang haram. “ (HR Abu Daud).
Bandingkan dengan pertanyaan sahabat ketika ia
bertanya kepada Rosulullah saw tentang obat yang berasal dari khomr, maka
Rosulullah saw menjawab, “Sesungguhnya ia (khomr tersebut) bukanlah obat, akan
tetapi penyakit.“ (HR. Muslim). Atsar Ibnu Mas’ud ra, bahwasanya ia
berkata, “Sesungguhnya Allah tidaklah menjadikan kesembuhan kamu di dalam
sesuatu yang diharamkan.” (HR. Bukhari).
Tiga Mitos Menyesatkan
Vaksin begitu dipercaya sebagai pencegah penyakit. Hal
ini tidak terlepas dari adanya 3 mitos yang sengaja disebarkan. Padahal, hal
itu berlawanan dengan kenyataan efektif melindungi manusia dari penyakit.
Kenyataan: Banyak penelitian medis mencatat kegagalan vaksinasi. Campak, gabag,
gondong, polio, terjadi juga di pemukiman penduduk yang telah diimunisasi.
Sebagai contoh, pada tahun 1989, wabah campak terjadi di sekolah yang punya
tingkat vaksinasi lebih besar dari 98%. WHO juga menemukan bahwa seseorang yang
telah divaksin campak, punya kemungkinan 15 kali lebih besar untuk terserang
penyakit tersebut daripada yang tidak divaksin.
Pertama, Imunisasi Menurunkan Jumlah Penyakit. Kebanyakan
penurunan penyakit terjadi sebelum dikenalkan imunisasi secara masal. Salah
satu buktinya, penyakit-penyakit infeksi yang mematikan di AS dan Inggris
mengalami penurunan rata-rata sebesar 80%, itu terjadi sebelum ada
vaksinasi. The British Association for the Advancement of Science menemukan
bahwa penyakit anak-anak mengalami penurunan sebesar 90% antara 1850 dan 1940,
dan hal itu terjadi jauh sebelum program imunisasi diwajibkan.
Imunisasi benar-benar aman bagi anak-anak Yang benar,
imunisasi lebih besar bahayanya. Salah satu buktinya, pada tahun 1986, kongres
AS membentuk The National Childhood Vaccine Injury Act, yang mengakui kenyataan
bahwa vaksin dapat menyebabkan luka dan kematian.
Kedua, Racun dan Najis ? Tak Masuk Akal. Apa saja
racun yang terkandung dalam vaksin? Beberapa racun dan bahan berbahaya yang
biasa digunakan seperti Merkuri, Formaldehid, Aluminium, Fosfat, Sodium,
Neomioin, Fenol, Aseton, dan sebagainya.
Sedangkan yang dari hewan biasanya darah kuda dan
babi, nanah dari cacar sapi, jaringan otak kelinci, jaringan ginjal anjing, sel
ginjal kera, embrio ayam, serum anak sapi, dan sebagainya. Sungguh, terdapat
banyak persamaan antara praktik penyihir zaman dulu dengan pengobatan modern.
Keduanya menggunakan organ tubuh manusia dan hewan, kotoran dan racun
(informasi ini diambil dari British National Anti-Vaccination league).
Dr. William Hay menyatakan, “Tak masuk akal memikirkan
bahwa Anda bisa menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil dan dengan proses
tertentu akan meningkatkan kesehatannya. Tubuh punya cara pertahanan tersendiri
yang tergantung pada vitalitas saat itu. Jika dalam kondisi fit, tubuh
akan mampu melawan semua infeksi, dan jika kondisinya sedang menurun, tidak
akan mampu. Dan Anda tidak dapat mengubah kebugaran tubuh menjadi lebih baik
dengan memasukkan racun apapun juga ke dalamnya.” (Immunisation: The
Reality behind the Myth).
Ketiga, Makhluk Mulia Vs Hewan. Allah telah
menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Manusia merupakan
khalifah di bumi, sehingga merupakan ashraful makhluqaat (makhluk termulia).
Mengingat keunggulan fisik, kecerdasan, dan jiwa secara hakiki, manusia
mengungguli semua ciptaan Allah yang ada. Manusia merupakan makhluk unik yang
dilengkapi sistem kekebalan alami yang berpotensi melawan semua mikroba, virus,
serta bakteri asing dan berbahaya.
Fakta Mengerikan

Ada beberapa fakta mengerikan yang harus anda ketahui
tentang imunisasi. Antara lain sebagai berikut: 1). Beberapa vaksin
mengandung racun seperti air raksa (merkuri), almunium dan formalin. 2).
Di tahun 1998, Pemerintah Perancis menghentikan program vaksinasi
berbasis sekolah yang memberikan vaksin Hepatitis B kepada anak-anak
usia sekolah karena kasus multiple-sklerosis telah dikaitkan dengan
vaksin tersebut dan lebih dari 600 kasus imunitas dan persyarafan telah
dilaporkan.
3). Beberapa vaksin dibuat menggunakan bahan yang
berasal dari jaringan manusia dari janin yang digugurkan. 4).
Kebanyakan negara mewajibkan bahwa saat anak berusia 5 tahun, ia sudah harus
menerima 33 dosis dari 10 vaksin. 5). Para dokter hanya melaporkan
kurang dari 10 persen kejadian buruk yang berkaitan dengan vaksinasi dan/atau
sesudah vaksinasi.
Selain fakta mengerikan di atas, ada bahan-bahan
tambahan lain terdapat dalam vaksin antara lain; Alumunium. Logam
ini ditambahkan ke dalam vaksin dalam bentuk gel atau garam sebagai pendorong
terbentuknya antibodi. Alumunium telah dikenal sebagai penyebab kejang,
penyakit alzheimer, kerusakan otak dan dimensia (pikun). Logam ini biasanya
digunakan pada vaksin-vaksin DPT, dan Hepatitis B.
Benzetonium Khlorida. Benzetonium adalah bahan pengawet
dan belum dievaluasi keamanannya untuk dikonsumsi oleh manusia. Biasa digunakan
sebagai campuran vaksin anthrax terutama diberikan kepada para personil
militer. Etilen Glikol. Biasa digunakan sebagai bahan utama
produk antibeku dan digunakan sebagai pengawet vaksin DaPT, polio, Hib dan
Hepatitis B. Formaldehid. Bahan kimia yang terkenal sebagai
zat karsinogenik (penyebab kanker) yang biasanya digunakan dalam proses
pengawetan mayat, fungisida/insektisida, bahan peledak dan pewarna kain.
Selain beracun, menurut Sir Graham S. Wilson pengarang
buku The Hazards of Immunization formalin tidak mamadai
sebagai pembunuh kuman sehingga maksud penggunaannya sebagai penonaktif kuman
dalam vaksin menjadi tidak berfungsi dengan baik. Akibatnya adalah kuman yang
seharusnya dilemahkan dalam vaksin tersebut malah menguat dan menginfeksi
penggunanya.
Gelatin. Bahan yang dikenal sebagai alergen
(bahan pemicu alergi) ini banyak ditemukan dalam vaksin cacar air atau MMR.
Bagi kaum Muslim, gelatin menimbulkan isu tambahan karena biasanya bahan
dasarnya berasal dari babi. Glutamat. Bahan yang digunakan
dalam vaksin sebagai penstabil terhadap panas, cahaya dan kondisi lingkungan
lainnya. Bahan ini banyak dikenal sebagai penyebab reaksi buruk kesehatan dan
ditemukan pada vaksin varicella.
Neomisin. Antibiotik ini digunakan untuk
mencegah pertumbuhan kuman di dalam biakan vaksin. Neomisin menyebabkan reaksi
alergi pada beberapa orang dan sering ditemukan dalam vaksin MMR dan
polio. Fenol. Bahan yang berbahan dasar tar batu bara yang
biasanya digunakan dalam produksi bahan pewarna non makanan, pembasmi kuman,
plastik, bahan pengawet dan germisida. Pada dosis tertentu, bahan ini sangat
beracun dan lebih bersifat membahayakan daripada merangsang sistem kekebalan
tubuh sehingga menjadi berlawanan dengan tujuan utama pembuatan vaksin. Fenol
digunakan untuk pembuatan beberapa vaksin termasuk vaksin tifoid.
Streptomisin. Antibiotik ini dikenal menyebabkan
reaksi alergi pada beberapa orang dan biasa ditemukan dalam vaksin polio. Timerosal/Merkuri. Bahan
yang sangat beracun yang selama beberapa puluh tahun digunakan pada hampir
seluruh vaksin yang ada di pasaran. Padahal timerosal/merkuri adalah salah satu
bahan kimia yang bertanggung jawab atas tragedi Minamata di Jepang yang
menyebabkan lahirnya bayi-bayi yang cacat fisik dan mentalnya.
Apa Kata
Para Ilmuwan Tentang Vaksinasi?
“Satu-satunya vaksin yang aman adalah vaksin yang
tidak pernah digunakan.” (Dr. James R. Shannon, mantan direktur Institusi
Kesehatan Nasional Amerika).
“Vaksin menipu tubuh supaya tidak lagi menimbulkan
reaksi radang. Sehingga vaksin mengubah fungsi pencegahan sistem imun.” (Dr.
Richard Moskowitz, Harvard University).
“Kanker pada dasarnya tidak dikenal sebelum kewajiban
vaksinasi cacar mulai diperkenalkan. Saya telah menghadapi 200 kasus kanker,
dan tak seorang pun dari mereka yang terkena kanker tidak mendapatkan vaksinasi
sebelumnya.” (Dr. W.B. Clarke, peneliti kanker Inggris).
“Ketika vaksin dinyatakan aman, keamanannya adalah
istilah relatif yang tidak dapat diartikan secara umum”. (dr. Harris Coulter,
pakar vaksin internasional).
“Kasus polio meningkat secara cepat sejak vaksin
dijalankan. Pada tahun 1957-1958 peningkatan sebesar 50%, dan tahun 1958-1959
peningkatan menjadi 80%.” (Dr. Bernard Greenberg, dalam sidang kongres AS tahun
1962).
“Sebelum vaksinasi besar besaran 50 tahun yang lalu,
di negara itu (Amerika) tidak terdapat wabah kanker, penyakit autoimun, dan
kasus autisme.” (Neil Z. Miller, peneliti vaksin internasional).
“Vaksin bertanggung jawab terhadap peningkatan jumlah
anak-anak dan orang dewasa yang mengalami gangguan sistem imun dan syarat,
hiperaktif, kelemahan daya ingat, asma, sindrom keletihan kronis, lupus,
artritis reumatiod, sklerosis multiple, dan bahkan epilepsi. Bahkan AIDS yang
tidak pernah dikenal dua dekade lalu, menjadi wabah di seluruh dunia saat ini.”
(Barbara Loe Fisher, Presiden Pusat Informasi Vaksin Nasional Amerika).
“Tak masuk akal memikirkan bahwa Anda bisa
menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil dan dengan proses tertentu akan
meningkatkan kesehatan. Tubuh punya cara pertahanan tersendiri yang tergantung
pada vitalitas saat itu. Jika dalam kondisi fit, tubuh akan mampu melawan semua
infeksi, dan jika kondisinya sedang menurun, tidak akan mampu. Dan Anda tidak
dapat mengubah kebugaran tubuh menjadi lebih baik dengan memasukkan racun apapun
juga ke dalamnya.” (Dr. William Hay, dalam buku “Immunisation: The Reality
behind the Myth”).
Kembali ke Syariat
Jika manusia menjalani hidupnya sesuai petunjuk
syariat yang berupa perintah dan larangan, kesehatannya akan tetap terjaga dari
serangan virus, bakteri, dan kuman penyakit lainnya. Sedangkan orang-orang
kafir, mengangap adanya kekurangan dalam diri manusia sebagai ciptaan Allah,
sehingga berusaha sekuat tenaga memperkuat sistem pertahanan tubuh melalui
imunisasai yang tercampur najis dan penuh dengan bahaya.
Manusia merupakan makhluk yang punya banyak kelebihan.
Terdapat perbedaan yang mencolok antara manusia dengan hewan tingkat rendah.
Apa yang dapat diterapkan padanya tidak cocok bagi hewan, demikian juga
sebaliknya. Namun, orang-orang atheis menyamakan hewan dengan manusia, sebab
mereka menganut teori evolusi manusia melalui kera yang sangat “menjijikkan”.
Oleh karena itu, mereka percaya bahwa apa yang
dimiliki hewan dapat secara aman dimasukkan ke dalam tubuh manusia. Jadi,
sel-sel hewan, virus, bakteri, darah, dan nanah disuntikkan ke dalam tubuh
manusia. Logika setan ini adalah hal yang amat menjijikkan menurut Islam.
Imunisasi digembar-gemborkan sebagai suatu bentuk
keajaiban pencegahan penyakit, padahal faktanya cara itu tidak lebih hanya
sebagai proyek penghasil uang para dokter dan perusahaan farmasi. Dalam
kenyataannya, imunisasi lebih banyak menyebabkan bahaya daripada kesehatan.
Bahkan, mengacaukan proses-proses alami yang ada dalam ciptaan-Nya. Nah, dengan
paparan singkat ini, orang tua mana yang merasa tidak takut untuk memberikan
imunisasi pada anaknya?
Saudaraku, masihkah kita meyakini bahwa ada kebaikan
dibalik program-program yang disebarkan musuh-musuh Islam? Ketauhilah,
imunisasi adalah salah satu program di antara beratus-ratus program Yahudi
untuk melumat habis umat Islam dari muka bumi ini. Bila benar imunisasi bisa
mencegah anak-anak kita dari berbagai penyakit, tapi mengapa puluhan ribu
anak-anak perempuan di Afrika menjadi mandul akibat imunisasi massal yang
dilakukan Amerika? [untuk lebih jelas Anda bisa baca buku, “Di Bawah
Bayang-bayang Gurita” karya J.D. Gray].
Jika benar-benar imunisasi bertujuan untuk menangkal
berbagai penyakit, tapi mengapa masih banyak anak-anak yang setelah diimunisasi
tiba-tiba badannya menjadi panas, lemah tak berdaya? Ini fakta yang tak bisa
disangkal lagi. Ini kejadian yang terjadi di salah satu perkampungan di Jakarta
sekitar tahun 2006 lalu.(R2/R1).
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar